Arsip untuk Januari, 2010

24
Jan
10

SEPUTAR HARAMNYA REBONDING

Rebonding dan Privatisasi

www.nuansaislam. com

Rebonding mungkin awalnya hanyalah sebuah istilah di antara sekian banyak istilah
yang berkaitan dengan perempuan, salon, kecantikan, trend, dan gaya
hidup. Tidak lebih. Namun rebonding yang belakangan ini menjadi salah
satu tema perbincangan hangat, telah meloncat jauh dari habitatnya. Ia
bukan hanya sebuah istilah persalonan dan trend. “Ini persoalan agama
dan kehormatan!” kata seseorang dengan bersemangat.
Di kala seperti itu, bahkan seorang hair stylist ternama tidak lagi mampu
menjelaskan apa itu sebenarnya rebonding.

Mengapa dia menjadi sedemikian rumit, lebih kalut dari sekadar
meluruskan rambut. Kaum penata rambut pasti hanya akan menjawab ketika
ditanya: “Rebonding haram ya? Kalo aku sih, ada yang minta ya saya
layani.”

Jika rebonding kita masukkan dalam salah satu dari aktivitas kosmetika, maka
sejarahnya bisa kita telusuri amat jauh hingga 10.ooo tahun Sebelum Masehi di Mesir Kuno. Masyarakat Mesir Kuno adalah masyarakat religius
dan kosmetika serta kecantikan adalah bagian dari kehidupan mereka yang
religius itu. Mereka meyakini bahwa tampak cantik dan berbau wangi
serta bersih adalah ekspresi kebertuhanan yang sangat penting. Karena
itu, alat-alat kosmetika adalah sesuatu yang amat penting pula dan
mengalami kecanggihan yang mungkin tak terkira kini. Bayangkan, waktu
itu, masyarakat Mesir Kuno telah mengenal cara menghilangkan bekas
luka, menyamarkan keriput, mengusir selulit, dan menyuburkan rambut.
Karena itu pula, ketika itu mereka telah mengenal makeup mata, kirim
wajah, minyak untuk badan, dan segala macam parfum. Alangkah majunya.

Dari Mesir Kuno kemudian kosmetika masyhur di Yunani sekitar 7 abad sebelum
Masehi di mana telah dikenal parfum, minyak kecantikan, bedak, eye shadow,
penghalus kulit, cat, salep kecantikan, dan pengering rambut. Dari Yunani lalu kosmetika berkembang hingga Roma sekitar 3 abad sebelum Masehi..

Oke, ternyata merias diri adalah salah satu tanda kemajuan peradaban,
terbukti kota-kota yang menjadi pusat peradaban di masanya juga adalah
pusat perkembangan kosmetika; dan salah satu yang menarik tadi adalah
adanya aktivitas merias diri adalah bagian dari aktivitas religius yang
bernilai spiritual hingga biasanya yang kita temukan dari gambar-gambar
perempuan yang ditemukan di piramida-piramida Mesir adalah gambar
orang-orang yang berdandan menor dengan bibir merah merekah. Di sana
tampak bahwa hasil merias diri bisa diakses oleh publik.

Namun ada juga tradisi agama yang cenderung memandang bahwa hasil merias
diri, terutama bagi perempuan, adalah persoalan privat, bukan persoalan
publik sehingga merias diri adalah untuk suami, bukan untuk umum.
Itulah mungkin yang menjadi asumsi dasar mengapa rebonding menjadi tidak
dibolehkan oleh sebagian cendekiawan Muslim. Bagi mereka, itu sama saja
dengan publikasi hal-hal yang seharusnya diprivatisasi. Bagi yang
setuju dengan rebonding mungkin akan berkata: Oke, memang ada hal-hal
yang tidak boleh dipublikasi, namun rambut—yang direbonding atau
tidak—tidak termasuk di antaranya. Lalu bagaimana jika haramnya
rebonding itu karena alasan kreasi manusia yang terberlebihan atas
ciptaan yang telah ditakdirkan Tuhan? Persoalannya berarti; sampai di
mana batas kreasi itu menjadi terlarang? Batasnya tampak abu-abu.

Memang tidak selalu agama barada satu jalur dengan perkembangan peradaban,
bahkan di banyak segi keduanya bentrok. Dalam kasus rebonding,
persoalannya adalah garis silang antara ruang-ruang privat dan
ruang-ruang publik. Dan banyak kasus dengan landasan seperti ini
menyeruak di banyak tempat. Di masa ketika ruang privat dan ruang
publik memiliki perbatasan yang temaram seperti sekarang ini—karena
dampak teknologi informasi—, persoalannya menjadi semakin rumit.

Seorang artis “panas” dalam sebuah wawancara tidak tampak sedih ketika
foto-foto berbusana hyper minimnya bersama seorang laki-laki yang bukan
muhrimnya beredar luas—di ruang publik. Dia berkata: “Itu bukan salah
saya. Itu adalah koleksi pribadi (baca: privat) yang oleh pihak—yang
“tidak bertanggung jawab—telah disebarluaskan (baca: dipublikkan) tanpa
izin tertulis dari saya.”
Ya, memang si pengedar mungkin hanya memegang “izin tak tertulis”. Mungkin
dalam hati dan nafsu terdalam si artis “panas” malah berterima kasih
sangat kepada si pengedar foto.
“Aku mendapatkan iklan gratis atas barang privatku di ruang publik,”
bisiknya girang dalam hati. “Sering-sering aja,” lanjutnya (dalam hati juga).
Satu hal yang pasti, adalah sesuatu yang selalu menarik bagi manusia jika
sekali-sekali waktu ruang privat menyibakkan sesenti dua cadarnya ke
ruang publik sambil mengerling. Dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui
segala sesuatu.[]
Daftar Bacaan:
http://www.cyonic- nemeton.. com/Cosmetics. htmlhttp: //www.thehistory of.net/the- history-of- cosmetics. html

12
Jan
10

NASEHAT dibalik fenomena FACEBOOK (perhatian bagi kita)

Ketika aib seseorang ditunggu-tunggu ribuan bahkan jutaan pembaca dalam berita-berita media massa…

Ketika seorang celebritis dengan bangga menjadikan kehamilannya di luar pernikahan yang sah sebagai ajang sensasi yang ditunggu-tunggu …’siapa calon bapak si jabang bayi?’

Weleh-weleh, ,……mungkin kita bisa berkata; “ya wajarlah artis, kehidupannya ya seperti itu, penuh sensasi”. Kalau perlu dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitasnya diberitakan dan dinikmati oleh publik.

Wuiiih…… ternyata sekarang bukan hanya artis yang bisa seperti itu, sadar atau tidak, ribuan bahkan jutaan orang saat ini sedang menikmati aktivitasnya [apapun] diketahui orang, dikomentarin orang bahkan [mohon maaf].. dilecehkan’ orang. Dan lebih herannya perasaan yang didapat adalah kesenangan,, .

Fenomena itu bernama FACEBOOK.
Setiap saat para facebooker meng-update statusnya agar bisa dinikmati dan dikomentarin lainnya. Lupa atau sengaja, hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga atau rahasia menjadi kebanggaan di statusnya.
Mungkin beberapa contoh status facebook bisa diperhatikan dibawah ini:

Seorang wanita menuliskan “Hujan-hujan malam-malam sendirian, enaknya ngapain ya…..?”— —kemudian puluhan komen bermunculan dari lelaki dan perempuan, bahkan seorang lelaki temannya menuliskan “mau ditemanin? Dijamin puas deh…”

Seorang wanita lainnya menuliskan ” Bangun tidur, badan sakit semua, biasa….habis malam jumat ya begini…:” kemudian komen2 nakal bermunculan. ..

Ada yang menulis “Bete nih di rumah terus, mana misua jauh lagi….”, —-kemudian komen2 pelecehan bermunculan.

Yang laki-laki tidak kalah hebat menulis statusnya “Habis minum jamu nih…., ada yang mau menerima tantangan ?’—-langsung berpuluh2 komen datang.

Ada yang hanya menuliskan, “lagi bokek, kagak punya duit…”

Ada juga yang nulis ” mau tidur nih, panas banget…bakal tidur pake dalaman lagi nih” .

…. dan ribuan status-status yang numpang beken dan pengin ada komen-komen dari lainnya yg tidak pantas dilakukan oleh seorang mukmin seperti kita.
Dan itu sadar atau tidak sadar dinikmati oleh indera kita, mata kita, telinga kita, bahkan pikiran kita.

Ada lagi yang lebih kejam dari sekedar status facebook, dan herannya seakan hilang rasa empati dan sensitivitas dari tiap diri terhadap hal-hal yang semestinya di tutup dan tidak perlu di tampilkan.

Seorang wanita dengan nada guyon mengomentarin foto yang baru saja diupload dialbumnya, foto-foto saat SMA dulu setelah berolah-raga memakai kaos dan celana pendek…..padahal sebagian besar yg ada didalam foto tersebut saat ini sudah berjilbab.

Ada seorang wanita meng-upload foto temannya yang sekarang sudah berubah dari kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan islami, foto saat dulu jahiliyah bersama teman2 prianya bergandengan dengan ceria….

Ada pula seorang pria meng-upload foto seorang wanita mantan kekasihnya dulu yang sedang dalam kondisi sangat seronok padahal kini sang wanita telah berkeluarga dan hidup dengan tenang.

Rasanya hilang; apa yang telah diajarkan seseorang yang sangat dicintai Allah SWT…., yaitu Muhammad Rasulullah SAW kepada umatnya, seseorang yang sangat menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya. Ingatkah kita ketika Rasulullah bertanya pada Aisyah r.ha
” Wahai Aisyah apa yang dapat saya makan pagi ini?” maka Aisyah menjawab ” wahai Rasulullah, sesungguhnya tidak ada yang dapat kita makan pagi ini”. Rasulullah dengan senyum teduhnya berkata “baiklah Aisyah, aku berpuasa hari ini”.
Jadi, tidak perlu orang tahu bahwa tidak ada makanan di rumah Rasulullah.

Ingatkah kita; Abdurrahman bin Auf r.a mengikuti Rasulullah berhijrah dari Mekah ke Madinah, ketika saudaranya menawarkannya sebagian hartanya, dan sebagian rumahnya,
maka abdurahman bin auf mengatakan, tunjukkan saja saya pasar. Kekurangannya tidak membuat beliau kehilangan kemuliaan hidupnya. Bahwasanya kehormatan menjadi salah satu indikator keimanan seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Malu itu sebagian dari iman”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan fenomena di atas menjadi Tanda Besar buat kita, hegemoni `kesenangan semu’ dan dibungkus dengan `persahabatan fatamorgana’ ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam facebook yang melindas semua tata krama tentang Malu, tentang menjaga Kehormatan Diri dan keluarga.

Rasulullah SAW menegaskan dengan sindiran keras kepada kita
“Apabila kamu tidak malu maka perbuatlah apa yang kamu mau.” (HR. Bukhari).

Maka jagalah kehormatan diri, jangan tampakkan lagi aib-aib masa lalu. mudah-mudahan Allah menjaga aib-aib kita.

Maka jagalah kehormatan diri kita, simpan rapat keluh kesah kita, simpan rapat aib-aib diri, jangan bebaskan `kesenangan’ , `gurauan’ membuat kehormatan kita luntur tak berbekas.

Beberapa orang sering dgn mudahnya meng-up date status mereka dgn kata-kata yg tidak jelas; entah apa tujuannya selain untuk numpang beken, cari perhatian dan pengin ada komen-komen dari lainnya”.
> Dingin . . .
> B.E.T.E. . . .
> Kangen . .
> Puanass buaget neh !
> Arghhh .. . !!!!
> Gile tuh org !
> . . .
> Aku masih menanti . . .
etc….

Mari kita jaga martabat dan akhlaq kita sbg orang iman dg selalu menjaga segala sesuatu yg tdk pantas kita lakukan..
Semoga Alloh memberikan selalu pencerahan iman untuk kita smua, amien.
Alhamdulillahi jazaa kumullohu khoiron.

08
Jan
10

MENATA KEMBALI NIAT UNTUK BERSEDEKAH

Segala puji hanya milik Allah *Subhaanahu Wa Ta’aalaa*. Shalawat dan salam
semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah tercinta, Muhammad bin
Abdullah, segenap keluarga, para sahabat dan umatnya yang setia.

Alhamdulillah, Nabi Muhammad *Shallallahu ‘Alaihi Wassalam* memberitahu
kepada kita ummatnya, ilmu mengenai apa saja perbuatan yang bila dikerjakan
selagi hidup di dunia yang fana ini, dapat menyebabkan hadirnya naungan di
hari Kiamat, salah satunya adalah sedekah.

*Subhanallah*…saat ini masyarakat sudah mulai menyadari makna sedekah
tersebut. Banyak orang yang bersedekah. Kebanyakan mereka dulu belum
memahami keutamaan sedekah atau berada dalam kondisi ekonomi yang kurang
memungkinkan untuk sedekah.

Kesadaran ini membuat masyarakat senantiasa berbagi, salah satunya dengan
sedekah.

Bagaimana mnrt syar’inya bilamana ada orang yang bersedekah supaya
memperlancar rejeki? Kemudian bagaimana cara belajar ikhlas yang
sebenar-benarnya?

Ikhlas…sepatah kata yang mudah diungkapkan, namun sulit diamalkan.

Menurut pemahaman saya yang awam ini, jangankan bagi kita, bagi generasi *
salaf* pun masalah ikhlas ini pun terasa berat. Hanya kejujuran diri ini dan
Allah *Ta’ala* yang tahu apakah suatu amal itu tergolong ikhlas atau tidak.

Bersedekah sangatlah dianjurkan. Bahkan kita diperintahkan untuk
memperbanyak sedekah. Mengenai apakah individu tersebut mengharap balasan di
dunia atau pahala di akhirat, tentunya pilihan ada di tangan masing-masing.
Bisa jadi dengan diniatkan mendapatkan balasan di dunia berupa kelancaran
rejeki, kemudian Allah mengabulkannya. Atau diniatkan semoga Allah *Subhanahu
Wa Ta’ala* membalasnya dengan pahala di akherat, maka tentunya ini lebih
utama.

Mari kita perhatikan firman Allah *Subhanahu Wa Ta’ala* dalam kitab suci
Al-Quran (terjemahan) sbb:

QS. Ali ‘Imran 145. … Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami
berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala
akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

QS. An Nisaa’ 134. Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka
ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah
Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

QS. Al Qashash 79. Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam
kemegahannya[1139]. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia:
“Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada
Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”

QS. Al Qashash 80. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan
yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang
beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh
orang- orang yang sabar.”

[1139]. Menurut mufassir: Karun ke luar dalam satu iring-iringan yang
lengkap dengan pengawal, hamba sahaya dan inang pengasuh untuk
memperlihatkan kemegahannya kepada kaumnya.

HANYA ORANG-ORANG YANG MEMAHAMI KITAB ALLAH, MENDIRIKAN SHALAT DAN BERNAFKAH
DI JALAH ALLAH ITULAH YANG MENGHARAP PAHALA YANG KEKAL

QS. Faathir 29 Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan
mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami
anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu
mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,

QS. Al Ahzab 29. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan
Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah
menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.

QS. An Nahl 41. Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka
dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di
dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka
mengetahui,

QS. Yusuf 57. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi
orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.

QS. Yunus 26. Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik
(surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak
(pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya.

Semoga kita bisa meningkatkan keikhlasan kita dalam amal ibadah kita, dan
semoga Allah *Subhanahu** Wa** Ta’ala meridhai* amal ibadah kita dan
menjauhkan kita dari siksa api neraka. *Wallahu a’lam*.

Berikut ada artikel 100 Do’a dalam Al-Qur’an dan Penjelasannya, Ust. Drs.
Muhammad yang *insyaallah* akan bermanfaat:

“Rabbanaa aatinaa fid dun-yaa”. “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di
dunia.” (QS. Al-Baqarah (2) : 200)

*Penjelasan:*

Pada zaman jahiliyah orang – orang Arab melaksanakan haji seperti yang
dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail.

Akan tetapi, mereka telah meninggalkan tuntunan yang digariskan oleh kedua
Nabi tersebut. Yang tetap tinggal hanyalah lahiriah-nya saja, dan isinya
telah mereka ubah sesuai dengan kepentingan dan selera mereka. Pada waktu
mereka berkumpul di Mina, mereka melakukan perlombaan membuat syair,
menceritakan kelebihan dan keunggulan nenek moyang mereka, dan bermegah –
megahan dengan keutamaan suku mereka.

Mereka sama sekali mengabikan ibadah haji untuk bertakarub, mohon ampun, dan
bertobat kepada Allah. Bahkan yang mereka minta selama berkumpul di Mina,
pergi melempar jumrah, dan turun ke Baitullah untuk thawaf hanyalah
memperoleh kesenangan dunia sebanyak – banyaknya sebagaimana do’a di atas: “Ya
Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia.”

Karena itulah, Allah nyatakan pada kelanjutan QS. Al-Baqarah (2) : ayat 200
tersebut: “dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.”

Do’a yang mereka ucapkan hanyalah permohonan untuk memperoleh kesenangan
sebanyak – banyaknya di dunia ini. Mereka tidak pernah memikirkan pentingnya
kehidupan akhirat. Bagi orang seperti ini, hidup di dunia adalah segala –
galanya. Puncak dari kehidupan ini bagi mereka adalah rasa senang dalam
menikmati kehidupan ini secara material. Mereka tidak pernah mau mengingat
adanya kehidupan akhirat sehingga mereka sama sekali tidak takut berbuat apa
saja di dunia ini, asalkan semua itu memberikan kesenangan nafsu mereka.
Mereka lebih mengutamakan jasad dan materi, lupa akan kehidupan di akhirat.
Bagi mereka kehidupan di di akhirat itu adalah ‘nonsense’.

Karena orang – orang musyrik beranggapan bahwa tidak ada kehidupan akhirat,
maka mereka ingin sekali memuaskan seleranya dalam kehidupan di dunia ini
dengan segala macam bentuk kepuasan nafsu dan kebanggaan materi. Oleh karena
itu, orang semacam ini hanya memohon kepada Allah untuk mendapatkan
kesenangan di dunia. Permohonan mereka ini mencerminkan kebodohan dan
kedangkalan mereka tentang hidup sesungguhnya yang dikehendaki oleh Allah.
Oleh karena itu, bila kita hanya memohon kepada Allah untuk mendapatkan
kesenangan di dunia, berarti kita pun tergolong sama mereka. Orang Mukmin
tidak boleh berdoa semacam itu karena orang yang hanya memohon kesenangan
dunia, kelak di akhirat akan Allah jauhi siksa dan dijauhkan dari rahmat –
Nya.

Berdo’a kepada Allah haruslah dilakukan dengan tuntunan dan permohonan yang
diridhai oleh Allah untuk kehidupan dunia dan akhirat, karena kehidupan yang
pokok dan lebih utama adalah kehidupan akhirat, sedangkan kehidupan di dunia
ini merupakan persiapan menuju kehidupan yang lebih hakiki dan kekal. Oleh
karena itu, yang harus kita utamakan adalah meminta kepada Allah agar dalam
kehidupan kelak itulah kita memperoleh kebahagiaan sejati. Adapun lafadz
do’a orang mukmin dapat kita baca pada uraian berikutnya.

“Rabbana aatinaa fid dun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa
‘adzaaban naar.”(QS. Al-Baqarah (2) : 201)

* Penjelasan:*

Allah mengajarkan kepada orang – orang mukmin, yaitu ketika mereka sedang
bermalam di Mina hendaklah memperbanyak ingat kepada Allah dan memohon
kepada –Nya diberi kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Orang
mukmin percaya bahwa kehidupan dunia ini hanya merupakan persiapan menuju
kehidupan yang hakiki dan abadi. Karena mereka menyadari bahwa manusia akan
kembali kepada Allah dan mempertanggungjawabkan segala sepak terjangnya di
dunia ini di hadapan Allah di akhirat kelak, maka mereka sadar akan
pentingnya pertolongan dan perlindungan Allah agar mendapatkan keselamatan
di dunia, keselamatan di akhirat dan dijauhkan dari siksa neraka.

Memohon dijauhkan dari siksa neraka adalah suatu permohonan yang sangat
besar kepada Allah, sebab tidak akan ada manusia yang bisa selamat dari
siksa neraka selain orang – orang yang mendapat hidayah, taufik, dan rahmat
Allah, sedangkan memperoleh ketiga hal tersebut bukanlah hal yang mudah.
Tidak setiap orang akan diperkenankan permohonannya oleh Allah untuk bisa
menjadi hamba-Nya yang bahagia di dunia, di akhirat, dan selamat dari siksa
neraka. Oleh karena itu, kita selalu memohon kepada Allah agar permintaan
tersebut dikabulkan.

Berkenaan dengan ayat ini Rasulullah saw pernah memanggil sahabat Anas bin
Malik, kemudian bertanya yang artinya:

“Apakah kamu memohon sesuatu kepada Allah?” Ujaranya: “Ya, aku biasa
mengucapkan:’Wahai Tuhan, aku tidak pernah mengharapkan siksa di akhirat.
Oleh karena itu, jika memang ada, maka percepatlah dia untukku di dunia
ini.” Lalu Rasulullah saw bersabda: “Mahasuci Allah, karena pasti kamu tidak
akan sanggup memikulnya. Oleh karena itu, alangkah baiknya engkau ucapkan:
“Wahai Tuhan kami berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di
akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa neraka.” Lalu beliau mendo’akan
kebaikan untuk dirinya, lalu Allah menyembuhkannya. (HR.Bukhari)

Hadits tersebut di atas terjadi ketika Rasulullah melihat seorang sahabat
yang menderita sakit sehingga keadaan badannya laksana seekor ayam yang
dicabuti bulunya. Sahabat itu kemudian berdo’a seperti riwayat di atas. Lalu
ia ditegur oleh Rasulullah agar tidak mengucapkan do’a semacam itu, tetapi
mengucapkan do’a seperti termaktub pada ayat 201 di atas.

Kebaikan dan kebahagiaan di dunia hanyalah dapat kita peroleh dengan rahmat
Allah. Begitu juga kebahagiaan dan keselamatan hidup di akhirat hanya bisa
kita peroleh dengan rahmat Allah. Oleh karena itu, kita harus selalu memohon
kepada Allah agar kita mendapatkan kebahagiaan di kedua tempat tersebut.
Bagi seorang mukmin kehidupan di akhirat jauh lebih berarti daripada
kehidupan di dunia karena alam akhirat kekal dan abadi, sedang alam dunia
pasti berakhir.

Setiap mukmin tidak boleh melupakan akhiratnya karena ingin mengejar
kesenangan sementara di dunia ini. Ia juga tidak boleh beranggapan bahwa
kesenangan dunia adalah bukti dirinya telah memperoleh keridhaan Allah dalam
hidupnya, sebab orang yang diberi kesenangan belum tentu menjadi orang yang
dicintai dan diridhai oleh Allah. Sebagai bukti, orang – orang musyrik dan
kafir juga diberi kesenangan oleh Allah di dunia ini, tetapi mereka diancam
mendapatkan siksa yang berat di akhirat kelak.

Do’a ini boleh kita baca kapan dan di mana saja, tidak perlu waktu khusus
atau tempat tertentu.

(100 Do’a dalam Al-Qur’an dan Penjelasannya, Ust. Drs. Muhammad Thalib,
Kaffah Media, Maret 2007, Sukoharjo)




BISNIS MODAL GRATIS

Hai Teman-Teman.. Ada Bisnis Menarik Nih. !! Kita Bisa Mendapatkan Rp.277 Juta Rupiah Dengan Modal 100% GRATIS Info Lengkapnya Kunjungi : http://www.komisiGRATIS.com/?id=mun4zahra

 

Januari 2010
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Masukkan alamat E-mail Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.