Arsip untuk Kategori '1'

06
Apr
09

Meneladani Muhammad

Oleh Prof Dr Komarudin Hidayat

Bagi umat Islam, sosok Muhammad lebih dilihat dan diposisikan sebagai seorang
nabi, yang dalam setiap langkahnya senantiasa mendapatkan bimbingan wahyu dari
Allah SWT. Karena itu, sosok Muhammad kemudian sering dipersepsikan sebagai
manusia super (superhuman) .

Padahal, berdasar keterangan yang tercantum dalam teks-teks Alquran, Muhammad
juga manusia. Meski demikian, Muhammad telah membuktikan diri sebagai tokoh
ideal, yang menjadi suri teladan bagi umat Islam dan juga manusia pada umumnya.

Misi utama Muhammad diturunkan ke bumi tak lain untuk membangun peradaban
dunia, yang secara mikro untuk menyempurnakan akhlak manusia itu sendiri (li
utammima makarim al-ahkhlaq). Karena itu, menarik dikaji bahwa kecintaan dan
kekaguman masyarakat kepada sosok Muhammad sesungguhnya tidak hanya tersekat
pada umat Islam saja, melainkan juga meliputi para pemerhati dan tokoh
sejarawan masyhur yang berasal dari lintas agama.

Figur Muhammad dipandang sebagai tokoh pembaru dan tokoh sejarah yang tidak
tertandingi. Riwayat hidupnya sangat transparan dan terang benderang dalam
panggung sejarah dunia, dari masa kelahiran hingga akhir embusan napasnya.
Sehingga terbuka bagi siapa pun untuk mengkaji perjalanan hidup putra Abdullah
itu.

Kehidupan Muhammad mudah ditelaah secara ilmiah historis. Karena itu, banyak
kaum pemerhati Islam dari Barat atau kaum Orientalis (meminjam istilah Edward
Said) sangat mengagumi peranan dan prestasi Muhammad sebagai tokoh sejarah dan
tokoh pembangun peradaban yang sangat berpengaruh hingga saat ini.

Bayangkan, putra Siti Aminah itu terlahir di hamparan padang pasir, di mana
daerah itu hampir dipastikan tidak membuat orang luar tertarik untuk
menaklukkan atau berkunjung karena kegersangan dan keganasannya. Muhammad juga
tumbuh besar sebagai yatim piatu. Tempaan hidup dan petunjuk Allah telah
memberikan kekuatan kepada dirinya untuk mengubah dataran padang pasir itu
menjadi pusat peradaban (the center of civilization) yang sangat mengagumkan.

Bagi komunitas muslim, kekuatan ini dipahami sebagai bagian dari intervensi
Tuhan lewat Jibril yang ditugaskan untuk membimbing setiap jejak dan langkah
Muhammad. Tapi bagi orang yang tidak percaya pewahyuan, mereka tetap mengagumi
sosok Muhammad sebagai penggerak dan pencetus peradaban baru di tanah Arab,
yang kemudian meluas hingga memberikan warna-warni peradaban dunia.

Di akhir hayatnya, Muhammad mewariskan himpunan kitab suci Alquran, Hadits,
serta tradisi yang masih berkembang sampai sekarang dan dipelihara secara
militan oleh umat Islam. Bahkan, konsep kehidupan masyarakat yang ideal
berhasil dia rumuskan, yang termanifestasikan dalam kehidupan kota Madinah.

Pola sosial masyarakat Madinah itu sendiri sesungguhnya merupakan konsep
politik-sosiologis sebagai masyarakat yang beradab. Kata Madinah sendiri
berarti madani atau berkeadaban. Itu ditandai dengan tegaknya pranata hukum,
penghargaan pada pluralitas, toleransi, demokrasi, dan kekuatan ilmu
pengetahuan, yang pada abad keenam itu bahkan dapat dikategorikan terlalu maju
dibanding belahan bumi yang lain.

Sampai sekarang, warisan-warisan agung itu terbukti sesuai dengan prinsip
modernitas (sahih likulli zaman wa makan), baik dalam ilmu pengetahuan ekonomi
maupun politik. Prinsip-prinsip kemanusiaan, demokrasi, HAM, dan ilmu
pengetahuan, semuanya itu secara nilai sudah dikenalkan oleh Muhammad. Karena
itu, bagi umat Islam, modernitas sama sekali tidak bertentangan dengan
keyakinan agamanya. Kalau saja dunia Islam saat ini acapkali bersitegang secara
vis to vis dengan masyarakat Barat, itu sebenarnya tidak terletak pada dimensi
keilmuan dan nilai keagamaan yang dipegang, melainkan lebih disebabkan oleh
ketidakadilan ekonomi dan politik.

Dengan demikian, sosok Muhammad tetap menjadi model pemimpin bagi umat Islam
yang tidak tertandingi. Di antara sekian banyak tokoh sejarah, ketika kita
semakin meneliti dan mengenal semakin dekat, biasanya kita akan menemukan
titik-titik kelemahannya. Tetapi, ini tidak berlaku pada sosok Muhammad. Banyak
orang yang semula membenci, setelah mereka mempelajari secara jujur sejarah
Muhammad, akhirnya mereka mengakui keluhuran pribadinya, kehebebatan ajarannya
yang sejalan dengan hati nurani dan nalar sehat.

Salah satu peristiwa sejarah yang sangat menarik direnungkan adalah saat
Muhammad berada di puncak kemenangannya saat menaklukkan Makkah, beliau justru
bersikap rendah hati, tidak sombong, mengajak bertasbih, bertahmid, dan
beristighfar kepada Allah. Bahkan, setiap perlakuan kasar dan tidak senonoh
yang diterima dari para musuhnya dengan mudah dimaafkan.

Artinya, Muhammad memimpin umatnya dengan nalar kritis, dengan hati yang tulus,
cinta kasih, dan sikap pemaaf. Sikap inilah yang perlu direnungkan dan
diteladani oleh para pemimpin hari ini. Yakni, pemimpin yang mendorong
peradaban yang ditopang dengan akal kritis dan melahirkan ilmu pengetahuan,
dengan hati yang tulus yang menyebarkan kasih sayang dan persahabatan. Karena
itu, wajar jika Muhammad menjadi tokoh panutan yang dicintai, yang mampu
menggerakkan umatnya, dan selalu memberikan inspirasi brilian.

Karena itu, umat Islam hendaknya benar-benar memahami karakter kepemimpinannya
secara komprehensif. Memang, kita perlu sepantasnya memberikan apresiasi kepada
komunitas muslim Indonesia yang memiliki tradisi peringatan kelahiran Muhammad
secara meriah. Tetapi, penghormatan itu hendaknya lebih daripada sekadar
seremoni dengan mengalunkan shalawat nabi, tapi juga mempelajari riwayat
hidupnya lebih serius dan ilmiah, untuk meneladani model kepemimpinannya.

Jangan sampai kita lebih gemar menyanjung dan menjadikan model teladan tokoh
lain, sementara kita sendiri justru tidak akrab dan tidak kenal dengan pemimpin
sendiri. Untuk itu, marilah umat Islam sekalian meneladani figur Muhammad
sebagai spirit untuk membangun bangsa lewat kerja keras, kerja cerdas, dan
kerja ikhlas.

13
Mar
09

Makna Hakiki Maulid Nabi Saw 12 Maret 2009

diambil dari : triwidodo68.wordpress.com

Makna Hakiki Maulid Nabi Saw
Sumber: Arief B. Iskandar
Kelahiran seorang manusia sebetulnya merupakan perkara yang biasa saja. Bagaimana tidak? Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit dunia ini tidak henti-hentinya menyambut kelahiran bayi-bayi manusia yang baru. Karena perkara yang biasa-biasa saja, tidak terasa bahwa dunia ini telah dihuni lebih dari 6 miliar jiwa.
Karena itulah, barangkali, Nabi kita, Rasulullah Muhammad Saw tidak menjadikan hari kelahirannya sebagai hari yang istimewa, atau sebagai hari yang setiap tahunnya harus diperingati. Keluarga beliau, baik pada masa Jahiliah maupun pada masa Islam, juga tidak pernah memperingatinya, padahal beliau adalah orang yang sangat dicintai oleh keluarganya. Mengapa? Sebab, dalam tradisi masyarakat Arab, baik pada zaman Jahiliah maupun zaman Islam, peringatan atas hari kelahiran seseorang tidak pernah dikenal.
Bagaimana dengan para sahabat beliau? Kita tahu, tidak ada seorang pun yang cintanya kepada Nabi Muhammad Saw melebihi kecintaan para sahabat kepada beliau. Dengan kata lain, di dunia ini, para sahabatlah yang paling mencintai Nabi Muhammad Saw. Namun demikian, peringatan atas kelahiran (maulid) Nabi Muhammad Saw juga tidak pernah dilakukan para sahabat beliau itu; meskipun dengan alasan untuk mengagungkan beliau. Wajar jika dalam Sirah Nabi Saw dan dalam sejarah otentik para sahabat beliau, sangat sulit ditemukan fragmen Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, baik yang dilakukan oleh Nabi Saw sendiri maupun oleh para sahabat beliau.
Bahkan ketika Khalifah Umar bin al-Khaththab bermusyawarah mengenai sesuai yang sangat penting dengan para sahabat, yakni mengenai perlunya penanggalan Islam, mereka hanya mengemukakan dua pilihan, yakni memulai tahun Islam dari sejak diutusnya Muhammad sebagai rasul atau sejak beliau hijrah ke Madinah. Akhirnya, pilihan Khalifah Umar —yang disepakati para sahabat— jatuh pada yang terakhir. Khalifah Umar beralasan, Hijrah adalah pembeda antara yang haq dan yang batil (ath-Thabari, Târîkh ath-Thabari, 2/3). Saat itu tidak ada seorang sahabat pun yang mengusulkan tahun Islam dimulai sejak lahirnya Nabi Muhammad Saw.
Demikian pula ketika mereka bermusyawarah tentang dari bulan apa tahun Hijrah dimulai; mereka pun hanya mengajukan dua alternatif, yakni bulan Ramadhan dan bulan Muharram. Pilihan akhirnya jatuh pada yang terakhir, karena bulan Muharram adalah bulan ketika orang-orang kembali dari menunaikan ibadah haji, dan Muharram adalah salah satu bulan suci (ath-Thabari, ibid.). Saat itu pun tidak ada yang mengusulkan bulan Rabiul Awwal, bulan lahirnya Rasulullah Saw, sebagai awal bulan tahun Hijrah.
Realitas tersebut, paling tidak, menunjukkan bahwa para sahabat sendiri tidak terlalu ‘memandang penting’ momentum hari dan tahun kelahiran Nabi Muhammad Saw, sebagaimana orang-orang Kristen memandang penting hari dan tahun kelahiran Isa al-Masih, yang kemudian mereka peringati sebagai Hari Natal. Itu membuktikan bahwa para sahabat bukanlah orang-orang yang biasa mengkultuskan Nabi Muhammad Saw, sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa as. Hal itu karena mereka tentu sangat memahami benar sabda Nabi Muhammad Saw sendiri yang pernah menyatakan:
Janganlah kalian mengkultuskan aku sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan putra Maryam (Isa as.), karena sesungguhnya aku hanya sekadar seorang hamba-Nya. [HR. Bukhari dan Ahmad].
Memang, sebagaimana manusia lainnya, secara fisik atau lahiriah, tidak ada yang istimewa pada diri Muhammad Saw sebagai manusia, selain beliau adalah seorang Arab dari keturunan yang dimuliakan di tengah-tengah kaumnya. Wajarlah jika Allah SWT, melalui lisan beliau sendiri, berfirman:
Katakanlah, “Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian…” (Qs. Fushshilat [41]: 6).
Lalu mengapa setiap tahun kaum Muslim saat ini begitu antusias memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw; sesuatu yang bahkan tidak dilakukan oleh Nabi Saw sendiri dan para sahabat beliau?
Berbagai jawaban atau alasan dari mereka yang memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw biasanya bermuara pada kesimpulan, bahwa Muhammad Saw memang manusia biasa, tetapi beliau adalah manusia teragung, karena beliau adalah nabi dan rasul yang telah diberi wahyu; beliau adalah pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, kelahirannya sangat layak diperingati. Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw sendiri tidak lain merupakan sebuah sikap pengagungan dan penghormatan (ta’zhîman wa takrîman) terhadap beliau dalam kapasitasnya sebagai nabi dan rasul; sebagai pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam.
Walhasil, jika memang demikian kenyataannya, kita dapat memahami makna Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw yang diselenggarakan setiap tahun oleh sebagian kaum Muslim saat ini, yakni sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan beliau dalam kapasitasnya sebagai nabi dan rasul Allah. Itulah yang menjadikan beliau sangat istimewa dibandingkan dengan manusia yang lain. Keistimewaan beliau tidak lain karena beliau diberi wahyu oleh Allah SWT, yang tidak diberikan kepada kebanyakan manusia lainnya. Allah SWT berfirman (masih dalam surah dan ayat yang sama):
Katakanlah, “Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian. (Hanya saja) aku telah diberi wahyu, bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, tetaplah kalian istiqamah pada jalan yang menuju kepada-Nya. (Qs. Fushshilat [41]: 6).
Makna Kelahiran Muhammad Saw
Kelahiran Muhammad Saw tentu tidaklah bermakna apa-apa seandainya beliau tidak diangkat sebagai nabi dan rasul Allah, yang bertugas untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada umat manusia agar mereka mau diatur dengan aturan apa saja yang telah diwahyukan-Nya kepada Nabi-Nya itu. Karena itu, Peringatan Maulid Nabi Saw pun tidak akan bermakna apa-apa —selain sebagai aktivitas ritual dan rutinitas belaka— jika kaum Muslim tidak mau diatur oleh wahyu Allah, yakni al-Qur’an dan as-Sunnah, yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad Saw ke tengah-tengah mereka. Padahal, Allah SWT telah berfirman:
Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah; apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah. (Qs. al-Hasyr [59]: 7).
Lebih dari itu, pengagungan dan penghormatan kepada Rasulullah Muhammad Saw, yang antara lain diekspresikan dengan Peringatan Maulid Nabi Saw, sejatinya merupakan perwujudan kecintaan kepada Allah, karena Muhammad Saw adalah kekasih-Nya. Jika memang demikian kenyataannya maka kaum Muslim wajib mengikuti sekaligus meneladani Nabi Muhammad Saw dalam seluruh aspek kehidupannya, bukan sekadar dalam aspek ibadah ritual dan akhlaknya saja. Allah SWT berfirman:
Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku.” (Qs. Ali-Imran [3]: 31).
Dalam ayat di atas, frasa fattabi’ûnî (ikutilah aku) bermakna umum, karena memang tidak ada indikasi adanya pengkhususan (takhshîsh), pembatasan (taqyîd), atau penekanan (tahsyîr) hanya pada aspek-aspek tertentu yang dipraktikkan Nabi Saw.
Di samping itu, Allah SWT juga berfirman:
Sesungguhnya engkau berada di atas khuluq yang agung. (Qs. al-Qalam [68]: 4).
Di dalam tafsirnya, Imam Jalalin menyatakan bahwa kata khuluq dalam ayat di atas bermakna dîn (agama, jalan hidup) (Lihat: Jalalain, Tafsîr Jalâlain, jld. 1, hal. 758). Dengan demikian, ayat di atas bisa dimaknai: Sesungguhnya engkau berada di atas agama/jalan hidup yang agung. Tegasnya, menurut Imam Ibn Katsir, dengan mengutip pendapat Ibn Abbas, ayat itu bermakna: Sesungguhnya engkau berada di atas agama/jalan hidup yang agung, yakni Islam (Ibn Katsir, Tafsîr Ibn Katsîr, jld. 4, hal. 403). Ibn Katsir lalu mengaitkan ayat ini dengan sebuah hadis yang meriwayatkan bahwa Aisyah istri Nabi Saw pernah ditanya oleh Sa’ad bin Hisyam mengenai akhlak Nabi Saw Aisyah lalu menjawab:
Sesungguhnya akhlaknya adalah al-Quran. [HR. Ahmad].
Dengan demikian, berdasarkan ayat al-Qur’an dan hadis penuturan Aisyah di atas, dapat disimpulkan bahwa meneladani Nabi Muhammad Saw hakikatnya adalah dengan cara mengamalkan seluruh isi al-Qur’an, yang tidak hanya menyangkut ibadah ritual dan akhlak saja, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Artinya, kaum Muslim dituntut untuk mengikuti dan meneladani Nabi Muhammad Saw dalam seluruh perilakunya: mulai dari akidah dan ibadahnya; makanan/minuman, pakaian, dan akhlaknya; hingga berbagai muamalah yang dilakukannya seperti dalam bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan, hukum, dan pemerintahan. Sebab, Rasulullah Saw sendiri tidak hanya mengajari kita bagaimana mengucapkan syahadat serta melaksanakan shalat, shaum, zakat, dan haji secara benar; tetapi juga mengajarkan bagaimana mencari nafkah, melakukan transaksi ekonomi, menjalani kehidupan sosial, menjalankan pendidikan, melaksanakan aktivitas politik (pengaturan masyarakat), menerapkan sanksi-sanksi hukum (‘uqûbat) bagi pelaku kriminal, dan mengatur pemerintahan/negara secara benar. Lalu, apakah memang Rasulullah Saw hanya layak diikuti dan diteladani dalam masalah ibadah ritual dan akhlaknya saja, tidak dalam perkara-perkara lainnya? Tentu saja tidak!
Jika demikian, mengapa saat ini kita tidak mau meninggalkan riba dan transaksi-transaksi batil yang dibuat oleh sistem Kapitalisme sekular; tidak mau mengatur urusan sosial dengan aturan Islam; tidak mau menjalankan pendidikan dan politik Islam; tidak mau menerapkan sanksi-sanksi hukum Islam (seperti qishâsh, potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, cambuk bagi pemabuk, hukuman mati bagi yang murtad, dan lain-lain); juga tidak mau mengatur pemerintahan/negara dengan aturan-aturan Islam? Bukankah semua itu justru pernah dipraktikan oleh Rasulullah Saw selama bertahun-tahun di Madinah dalam kedudukannya sebagai kepala Negara Islam (Daulah Islamiyah)?
Kelahiran Nabi Saw: Kelahiran Masyarakat Baru
Sebagaimana diketahui, masa sebelum Islam adalah masa kegelapan, dan masyarakat sebelum Islam adalah masyarakat Jahiliah. Akan tetapi, sejak kelahiran (maulid) Muhammad Saw di tengah-tengah mereka, yang kemudian diangkat oleh Allah sebagai nabi dan rasul pembawa risalah Islam ke tengah-tengah mereka, dalam waktu hanya 23 tahun, masa kegelapan mereka berakhir digantikan dengan masa ‘cahaya’; masyarakat Jahiliah terkubur digantikan dengan lahirnya masyarakat baru, yakni masyarakat Islam. Sejak itu, Nabi Muhammad saw. adalah pemimpin di segala bidang. Ia memimpin umat di masjid, di pemerintahan, bahkan di medan pertempuran.
Karena itu, kita bisa menyimpulkan bahwa makna terpenting dari kelahiran Nabi Muhammad Saw adalah keberadaannya yang telah mampu membidani kelahiran masyarakat baru, yakni masyarakat Islam; sebuah masyarakat yang tatanan kehidupannya diatur seluruhnya oleh aturan-aturan Islam.
Renungan
Walhasil, Peringatan Maulid Nabi Saw sejatinya dijadikan momentum bagi kaum Muslim untuk terus berusaha melahirkan kembali masyarakat baru, yakni masyarakat Islam, sebagaimana yang pernah dibidani kelahirannya oleh Rasulullah Saw di Madinah. Sebab, siapapun tahu, masyarakat sekarang tidak ada bedanya dengan masyarakat Arab pra-Islam, yakni sama-sama Jahiliah. Sebagaimana masa Jahiliah dulu, saat ini pun aturan-aturan Islam tidak diterapkan.
Karena aturan-aturan Islam —sebagaimana aturan-aturan lain— tidak mungkin tegak tanpa adanya negara, maka menegakkan negara yang akan memberlakukan aturan-aturan Islam adalah keniscayaan. Inilah juga yang disadari benar oleh Rasulullah Saw sejak awal dakwahnya. Rasulullah Saw tidak hanya menyeru manusia agar beribadah secara ritual kepada Allah dan berakhlak baik, tetapi juga menyeru mereka seluruhnya agar menerapkan semua aturan-aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Sejak awal, bahkan para pemuka bangsa Arab saat itu menyadari, bahwa secara politik dakwah Rasulullah Saw akan mengancam kedudukan dan kekuasaan mereka. Itulah yang menjadi alasan orang-orang seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Walid bin Mughirah, dan para pemuka bangsa Arab lainnya sangat keras menentang dakwah Rasulullah Saw. Akan tetapi, semua penentangan itu akhirnya dapat diatasi oleh Rasulullah Saw sampai beliau berhasil menegakkan kekuasaannya di Madinah sekaligus melibas kekuasaan mereka.
Walhasil, dakwah seperti itulah yang juga harus dilakukan oleh kaum Muslim saat ini, yakni dakwah untuk menegakkan kekuasaan Islam yang akan memberlakukan aturan-aturan Islam, sekaligus yang akan meruntuhkan kekuasaan rezim kafir yang telah memberlakukan aturan-aturan kufur selama ini. Hanya dengan itulah Peringatan Maulid Nabi Saw yang diselenggarakan setiap tahun akan jauh lebih bermakna. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb. [majalah al-wa’ie, Edisi 56]
Tanggapan dari Daud Al Ayubi: Assalamualaikum
Mengapa umat Islam gemar melaksanakan Maulid Nabi? Padahal Pendiri Maulid itu Syiah dan tujuannya bukan cinta Rasulullah tapi melalaikan umat Islam dari Jlan yang Haq.
Sebab tidak ada kebaikan dalam sesuatu yang maksiat (maulid), Bid;ah adalah maksiat kepada Allah meskipun dianggap mulia.
Kembalilah membasmi Syirik dan Bid’ah jangan malah menyebarkannya. Afwan in sebuah nasehat, bila nasehat ini diterima Alhamdulillah dan bila tidak, kewajiban saya telah memberikan nasehat yang bijak.
Semua bid’ah itu sesat (HR. Muslim) dan tidak ada bid’ah hasanah, bid’ah hasanah yang dicetuskan umar itu bukan bid’ah tetapi sesuatu yang memang sudah ada jaman Rasulullah dan dihidupkan kembali.
Saya setuju untuk mendirikan KHILAFAH ISLAMIYAH ALA MANHAJ SALAF saya dukung dengan DOA dan Ilmu. Tetapi cobalah jangan menghalalkan jalan yang bid’ah.
Cobalah jangan mencampur adukan antara yang haq dengan yang bathil, haq dan bathil itu bagaikan air dengan minyak. Tidak bisa Ahli Sunnah digabung dengan Ahli Bid’ah, Ahli Tauhid digabung dengan Ahli Syirik.
Jazakallah.
Tanggapan dari: Abd Halim Husni
Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh
Maulid Nabi dirayakan pada mulanya dirayakan untuk meningkatkan semangat juang kaum muslimin dalam perang Sabil (Salib). Menurut saya tak semua apa yang tidak ada jaman Rasulullah kemudian kita laksanakan di jaman kita akan jadi Bid’ah. Contoh kecil aza… jaman Rasul belum ada pesawat, apakah sekarang naik pesawat bid’ah?. Maulid memang tidak setara dengan pesawat, tp dengan peringatan maulid kita memiliki sebuah tonggak bahwa hari ini telah lahir seorang mulya yang telah diutus Allah sebagai Rahmat, ulang tahun anak kita aja… kita catat (walau mungkin gak dirayakan), apalagi ini kelahiran Rasul… Tapi saya juga tidak setuju jika peringatan maulid dalam bentuk penghamburan makanan dan sejenisnya, kalau seperti pengajian, lomba keagaman it’s oke… tapi Maulid Nabi bukan SYARI’AH beda dengan perbuatan dalam sholat atau Ibadah lainya, jadi sy beranggapan gak usah dikaitkan dengan BID’AH.
Jadikan perayaan maulid untuk bersatu membangun Islam… bukan saling menuduh BID’AH… beda pendapat boleh… tergantung referensi yang kita miliki dan sejauh mana Islam kita fahami… mari memahami Islam dari berbagai sisi karena Islam itu luas… Maaf jika ada salah tulis… AYO TEGAKKAN ISLAM…
Hudallohu wa ridhollu alaina… wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Tanggapan dari:HM Hasbi Ash Elhasby
Islam adalah agama yang luas, yang menebarkan rahmatal lil alamin. inilah dianataranya ini yang dibawa oleh Rasulullah saw.
tentang maslah bidah atau tidak itu tergantung kepada orangnya yang memandangnya.
menurut sy banyak sekali bidah yang kita laksanakan dalam keseharian. kalo kita berpatokan apa pengertian itu sebenarnya (sesuatu yang tidak pernaha dikerjakan atau dilakukan oleh Rasulullah saw. contoh kecil saja. dimana2 mesjid dan mushalla banyak terdapat bidah didalamnya. ini dibidang agama. apalagi dalam pemerintahan yang tidak ada pada zaman Rasulullah saw. dulu dizaman Rasulullah saw. tidak ada pengeras suara, kipas angin atau AC, lampu dan sebagainya. maka itu dinamakan bidah.
sementara pandangan ASWAJA bidah itu terbagi kepada 5.
sebagaimana sayyidana Ustman ra. mengumpulkan ayat-ayat suci al-quran apakah tidak bidah????? tentulah tidak, andaikan bukan karena jasa beliau kita tidak akan bisa membaca wahyu ilahi yang diturunkan Allah swt, melewat sayyidina JIbril as. kepada junjungan kita Rasulllah saw.
kalo berbicara tentang bidah banyak sekali bidah yang munkar yang wajib kita BASMI seperti concer musik, audisi-audisi yang tidak berhubungan dengan agama adalagi peringatan-peringatan seperti Hari Valentine days,HIV,Hara Madat Dunia dan banyak lagi yang jelas2 tidak ada dasar dalil dalam alquran dan sunnah.
mengapa peringatan maulid dibilang bidah????
sementara kita sebagai umatnya wajib bersyukur dengan lahirnya seorang manusia yang disucikan Allah swt.
afwan… bukan sy ingin mengajari, selama kegiatan islam itu tidak melenceng jauh dari agama dan dapat mepersatukan ummat untuk lebih MAHABBAH kepada Rasulullah saw. dan BERSYUKUR kepada ALLAH swt. kenapa diperdebatkan begitu panjangnya. udah kuno coyyy…………!!!!!!!!!!!
coba hidup secara REAL, ada banyak ayat yang memuji Rasullah saw. kenapa kita tidak.????????
benar perkataan ulama, “yang dikit ilmu agamanya banyak omong kosong” DOOOOOOUUUUUUUNG
gini aja, mari kita ambil sisi baik dari peringtan maulid yang sering diadakan dimana saja, bahawa itulah wujud kecintaan kita kepada Rasullah dan itulah KEHEBATAN RASULULLAH SAW tanpa kita bisa melihat dan merasakan secara langsung akan tetapi beliau tetap ada untuk kiat selamanya dan dapat menyatukan hati kita bersama.
orang kafir aja merasakan syafaatnya Rasulullah, kenapa kita sebagai umatnya ngga ngerasiin ini????? emang lue kafir…..
diantaranya lagi banyak didalam pelaksanaan itu telah melaksanakan akan sunnahnya. diantaranya :
1. saling bersilaturrahmi
2. mendengarkan mau’izhah hasanah
3. it’amu at-tha’am
4. merasakan betapa susahnya pengorbanan Rasullah saw sampai kita merasakan begitu indahnya islam sebagai agama yang kita pegang saat ini.
mudah-mudahan kita yang mahabbah kepada nabi dapat syafaatnya dan yang ngga cinta dapat taufik dan hidayah agar bisa ngerasain betapa nikmat dan indahnya mencintai Rasulullah saw.
wassalam




BISNIS MODAL GRATIS

Hai Teman-Teman.. Ada Bisnis Menarik Nih. !! Kita Bisa Mendapatkan Rp.277 Juta Rupiah Dengan Modal 100% GRATIS Info Lengkapnya Kunjungi : http://www.komisiGRATIS.com/?id=mun4zahra

 

Mei 2012
S S R K J S M
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Masukkan alamat E-mail Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.