Meneladani Muhammad

Published 6 April 2009 by NAILUL MUNA ZAHRA

Oleh Prof Dr Komarudin Hidayat

Bagi umat Islam, sosok Muhammad lebih dilihat dan diposisikan sebagai seorang
nabi, yang dalam setiap langkahnya senantiasa mendapatkan bimbingan wahyu dari
Allah SWT. Karena itu, sosok Muhammad kemudian sering dipersepsikan sebagai
manusia super (superhuman) .

Padahal, berdasar keterangan yang tercantum dalam teks-teks Alquran, Muhammad
juga manusia. Meski demikian, Muhammad telah membuktikan diri sebagai tokoh
ideal, yang menjadi suri teladan bagi umat Islam dan juga manusia pada umumnya.

Misi utama Muhammad diturunkan ke bumi tak lain untuk membangun peradaban
dunia, yang secara mikro untuk menyempurnakan akhlak manusia itu sendiri (li
utammima makarim al-ahkhlaq). Karena itu, menarik dikaji bahwa kecintaan dan
kekaguman masyarakat kepada sosok Muhammad sesungguhnya tidak hanya tersekat
pada umat Islam saja, melainkan juga meliputi para pemerhati dan tokoh
sejarawan masyhur yang berasal dari lintas agama.

Figur Muhammad dipandang sebagai tokoh pembaru dan tokoh sejarah yang tidak
tertandingi. Riwayat hidupnya sangat transparan dan terang benderang dalam
panggung sejarah dunia, dari masa kelahiran hingga akhir embusan napasnya.
Sehingga terbuka bagi siapa pun untuk mengkaji perjalanan hidup putra Abdullah
itu.

Kehidupan Muhammad mudah ditelaah secara ilmiah historis. Karena itu, banyak
kaum pemerhati Islam dari Barat atau kaum Orientalis (meminjam istilah Edward
Said) sangat mengagumi peranan dan prestasi Muhammad sebagai tokoh sejarah dan
tokoh pembangun peradaban yang sangat berpengaruh hingga saat ini.

Bayangkan, putra Siti Aminah itu terlahir di hamparan padang pasir, di mana
daerah itu hampir dipastikan tidak membuat orang luar tertarik untuk
menaklukkan atau berkunjung karena kegersangan dan keganasannya. Muhammad juga
tumbuh besar sebagai yatim piatu. Tempaan hidup dan petunjuk Allah telah
memberikan kekuatan kepada dirinya untuk mengubah dataran padang pasir itu
menjadi pusat peradaban (the center of civilization) yang sangat mengagumkan.

Bagi komunitas muslim, kekuatan ini dipahami sebagai bagian dari intervensi
Tuhan lewat Jibril yang ditugaskan untuk membimbing setiap jejak dan langkah
Muhammad. Tapi bagi orang yang tidak percaya pewahyuan, mereka tetap mengagumi
sosok Muhammad sebagai penggerak dan pencetus peradaban baru di tanah Arab,
yang kemudian meluas hingga memberikan warna-warni peradaban dunia.

Di akhir hayatnya, Muhammad mewariskan himpunan kitab suci Alquran, Hadits,
serta tradisi yang masih berkembang sampai sekarang dan dipelihara secara
militan oleh umat Islam. Bahkan, konsep kehidupan masyarakat yang ideal
berhasil dia rumuskan, yang termanifestasikan dalam kehidupan kota Madinah.

Pola sosial masyarakat Madinah itu sendiri sesungguhnya merupakan konsep
politik-sosiologis sebagai masyarakat yang beradab. Kata Madinah sendiri
berarti madani atau berkeadaban. Itu ditandai dengan tegaknya pranata hukum,
penghargaan pada pluralitas, toleransi, demokrasi, dan kekuatan ilmu
pengetahuan, yang pada abad keenam itu bahkan dapat dikategorikan terlalu maju
dibanding belahan bumi yang lain.

Sampai sekarang, warisan-warisan agung itu terbukti sesuai dengan prinsip
modernitas (sahih likulli zaman wa makan), baik dalam ilmu pengetahuan ekonomi
maupun politik. Prinsip-prinsip kemanusiaan, demokrasi, HAM, dan ilmu
pengetahuan, semuanya itu secara nilai sudah dikenalkan oleh Muhammad. Karena
itu, bagi umat Islam, modernitas sama sekali tidak bertentangan dengan
keyakinan agamanya. Kalau saja dunia Islam saat ini acapkali bersitegang secara
vis to vis dengan masyarakat Barat, itu sebenarnya tidak terletak pada dimensi
keilmuan dan nilai keagamaan yang dipegang, melainkan lebih disebabkan oleh
ketidakadilan ekonomi dan politik.

Dengan demikian, sosok Muhammad tetap menjadi model pemimpin bagi umat Islam
yang tidak tertandingi. Di antara sekian banyak tokoh sejarah, ketika kita
semakin meneliti dan mengenal semakin dekat, biasanya kita akan menemukan
titik-titik kelemahannya. Tetapi, ini tidak berlaku pada sosok Muhammad. Banyak
orang yang semula membenci, setelah mereka mempelajari secara jujur sejarah
Muhammad, akhirnya mereka mengakui keluhuran pribadinya, kehebebatan ajarannya
yang sejalan dengan hati nurani dan nalar sehat.

Salah satu peristiwa sejarah yang sangat menarik direnungkan adalah saat
Muhammad berada di puncak kemenangannya saat menaklukkan Makkah, beliau justru
bersikap rendah hati, tidak sombong, mengajak bertasbih, bertahmid, dan
beristighfar kepada Allah. Bahkan, setiap perlakuan kasar dan tidak senonoh
yang diterima dari para musuhnya dengan mudah dimaafkan.

Artinya, Muhammad memimpin umatnya dengan nalar kritis, dengan hati yang tulus,
cinta kasih, dan sikap pemaaf. Sikap inilah yang perlu direnungkan dan
diteladani oleh para pemimpin hari ini. Yakni, pemimpin yang mendorong
peradaban yang ditopang dengan akal kritis dan melahirkan ilmu pengetahuan,
dengan hati yang tulus yang menyebarkan kasih sayang dan persahabatan. Karena
itu, wajar jika Muhammad menjadi tokoh panutan yang dicintai, yang mampu
menggerakkan umatnya, dan selalu memberikan inspirasi brilian.

Karena itu, umat Islam hendaknya benar-benar memahami karakter kepemimpinannya
secara komprehensif. Memang, kita perlu sepantasnya memberikan apresiasi kepada
komunitas muslim Indonesia yang memiliki tradisi peringatan kelahiran Muhammad
secara meriah. Tetapi, penghormatan itu hendaknya lebih daripada sekadar
seremoni dengan mengalunkan shalawat nabi, tapi juga mempelajari riwayat
hidupnya lebih serius dan ilmiah, untuk meneladani model kepemimpinannya.

Jangan sampai kita lebih gemar menyanjung dan menjadikan model teladan tokoh
lain, sementara kita sendiri justru tidak akrab dan tidak kenal dengan pemimpin
sendiri. Untuk itu, marilah umat Islam sekalian meneladani figur Muhammad
sebagai spirit untuk membangun bangsa lewat kerja keras, kerja cerdas, dan
kerja ikhlas.

One comment on “Meneladani Muhammad

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: