MENATA KEMBALI NIAT UNTUK BERSEDEKAH

Published 8 Januari 2010 by NAILUL MUNA ZAHRA

Segala puji hanya milik Allah *Subhaanahu Wa Ta’aalaa*. Shalawat dan salam
semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah tercinta, Muhammad bin
Abdullah, segenap keluarga, para sahabat dan umatnya yang setia.

Alhamdulillah, Nabi Muhammad *Shallallahu ‘Alaihi Wassalam* memberitahu
kepada kita ummatnya, ilmu mengenai apa saja perbuatan yang bila dikerjakan
selagi hidup di dunia yang fana ini, dapat menyebabkan hadirnya naungan di
hari Kiamat, salah satunya adalah sedekah.

*Subhanallah*…saat ini masyarakat sudah mulai menyadari makna sedekah
tersebut. Banyak orang yang bersedekah. Kebanyakan mereka dulu belum
memahami keutamaan sedekah atau berada dalam kondisi ekonomi yang kurang
memungkinkan untuk sedekah.

Kesadaran ini membuat masyarakat senantiasa berbagi, salah satunya dengan
sedekah.

Bagaimana mnrt syar’inya bilamana ada orang yang bersedekah supaya
memperlancar rejeki? Kemudian bagaimana cara belajar ikhlas yang
sebenar-benarnya?

Ikhlas…sepatah kata yang mudah diungkapkan, namun sulit diamalkan.

Menurut pemahaman saya yang awam ini, jangankan bagi kita, bagi generasi *
salaf* pun masalah ikhlas ini pun terasa berat. Hanya kejujuran diri ini dan
Allah *Ta’ala* yang tahu apakah suatu amal itu tergolong ikhlas atau tidak.

Bersedekah sangatlah dianjurkan. Bahkan kita diperintahkan untuk
memperbanyak sedekah. Mengenai apakah individu tersebut mengharap balasan di
dunia atau pahala di akhirat, tentunya pilihan ada di tangan masing-masing.
Bisa jadi dengan diniatkan mendapatkan balasan di dunia berupa kelancaran
rejeki, kemudian Allah mengabulkannya. Atau diniatkan semoga Allah *Subhanahu
Wa Ta’ala* membalasnya dengan pahala di akherat, maka tentunya ini lebih
utama.

Mari kita perhatikan firman Allah *Subhanahu Wa Ta’ala* dalam kitab suci
Al-Quran (terjemahan) sbb:

QS. Ali ‘Imran 145. … Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami
berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala
akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

QS. An Nisaa’ 134. Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka
ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah
Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

QS. Al Qashash 79. Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam
kemegahannya[1139]. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia:
“Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada
Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”

QS. Al Qashash 80. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan
yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang
beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh
orang- orang yang sabar.”

[1139]. Menurut mufassir: Karun ke luar dalam satu iring-iringan yang
lengkap dengan pengawal, hamba sahaya dan inang pengasuh untuk
memperlihatkan kemegahannya kepada kaumnya.

HANYA ORANG-ORANG YANG MEMAHAMI KITAB ALLAH, MENDIRIKAN SHALAT DAN BERNAFKAH
DI JALAH ALLAH ITULAH YANG MENGHARAP PAHALA YANG KEKAL

QS. Faathir 29 Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan
mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami
anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu
mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,

QS. Al Ahzab 29. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan
Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah
menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.

QS. An Nahl 41. Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka
dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di
dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka
mengetahui,

QS. Yusuf 57. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi
orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.

QS. Yunus 26. Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik
(surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak
(pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya.

Semoga kita bisa meningkatkan keikhlasan kita dalam amal ibadah kita, dan
semoga Allah *Subhanahu** Wa** Ta’ala meridhai* amal ibadah kita dan
menjauhkan kita dari siksa api neraka. *Wallahu a’lam*.

Berikut ada artikel 100 Do’a dalam Al-Qur’an dan Penjelasannya, Ust. Drs.
Muhammad yang *insyaallah* akan bermanfaat:

“Rabbanaa aatinaa fid dun-yaa”. “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di
dunia.” (QS. Al-Baqarah (2) : 200)

*Penjelasan:*

Pada zaman jahiliyah orang – orang Arab melaksanakan haji seperti yang
dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail.

Akan tetapi, mereka telah meninggalkan tuntunan yang digariskan oleh kedua
Nabi tersebut. Yang tetap tinggal hanyalah lahiriah-nya saja, dan isinya
telah mereka ubah sesuai dengan kepentingan dan selera mereka. Pada waktu
mereka berkumpul di Mina, mereka melakukan perlombaan membuat syair,
menceritakan kelebihan dan keunggulan nenek moyang mereka, dan bermegah –
megahan dengan keutamaan suku mereka.

Mereka sama sekali mengabikan ibadah haji untuk bertakarub, mohon ampun, dan
bertobat kepada Allah. Bahkan yang mereka minta selama berkumpul di Mina,
pergi melempar jumrah, dan turun ke Baitullah untuk thawaf hanyalah
memperoleh kesenangan dunia sebanyak – banyaknya sebagaimana do’a di atas: “Ya
Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia.”

Karena itulah, Allah nyatakan pada kelanjutan QS. Al-Baqarah (2) : ayat 200
tersebut: “dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.”

Do’a yang mereka ucapkan hanyalah permohonan untuk memperoleh kesenangan
sebanyak – banyaknya di dunia ini. Mereka tidak pernah memikirkan pentingnya
kehidupan akhirat. Bagi orang seperti ini, hidup di dunia adalah segala –
galanya. Puncak dari kehidupan ini bagi mereka adalah rasa senang dalam
menikmati kehidupan ini secara material. Mereka tidak pernah mau mengingat
adanya kehidupan akhirat sehingga mereka sama sekali tidak takut berbuat apa
saja di dunia ini, asalkan semua itu memberikan kesenangan nafsu mereka.
Mereka lebih mengutamakan jasad dan materi, lupa akan kehidupan di akhirat.
Bagi mereka kehidupan di di akhirat itu adalah ‘nonsense’.

Karena orang – orang musyrik beranggapan bahwa tidak ada kehidupan akhirat,
maka mereka ingin sekali memuaskan seleranya dalam kehidupan di dunia ini
dengan segala macam bentuk kepuasan nafsu dan kebanggaan materi. Oleh karena
itu, orang semacam ini hanya memohon kepada Allah untuk mendapatkan
kesenangan di dunia. Permohonan mereka ini mencerminkan kebodohan dan
kedangkalan mereka tentang hidup sesungguhnya yang dikehendaki oleh Allah.
Oleh karena itu, bila kita hanya memohon kepada Allah untuk mendapatkan
kesenangan di dunia, berarti kita pun tergolong sama mereka. Orang Mukmin
tidak boleh berdoa semacam itu karena orang yang hanya memohon kesenangan
dunia, kelak di akhirat akan Allah jauhi siksa dan dijauhkan dari rahmat –
Nya.

Berdo’a kepada Allah haruslah dilakukan dengan tuntunan dan permohonan yang
diridhai oleh Allah untuk kehidupan dunia dan akhirat, karena kehidupan yang
pokok dan lebih utama adalah kehidupan akhirat, sedangkan kehidupan di dunia
ini merupakan persiapan menuju kehidupan yang lebih hakiki dan kekal. Oleh
karena itu, yang harus kita utamakan adalah meminta kepada Allah agar dalam
kehidupan kelak itulah kita memperoleh kebahagiaan sejati. Adapun lafadz
do’a orang mukmin dapat kita baca pada uraian berikutnya.

“Rabbana aatinaa fid dun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa
‘adzaaban naar.”(QS. Al-Baqarah (2) : 201)

* Penjelasan:*

Allah mengajarkan kepada orang – orang mukmin, yaitu ketika mereka sedang
bermalam di Mina hendaklah memperbanyak ingat kepada Allah dan memohon
kepada –Nya diberi kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Orang
mukmin percaya bahwa kehidupan dunia ini hanya merupakan persiapan menuju
kehidupan yang hakiki dan abadi. Karena mereka menyadari bahwa manusia akan
kembali kepada Allah dan mempertanggungjawabkan segala sepak terjangnya di
dunia ini di hadapan Allah di akhirat kelak, maka mereka sadar akan
pentingnya pertolongan dan perlindungan Allah agar mendapatkan keselamatan
di dunia, keselamatan di akhirat dan dijauhkan dari siksa neraka.

Memohon dijauhkan dari siksa neraka adalah suatu permohonan yang sangat
besar kepada Allah, sebab tidak akan ada manusia yang bisa selamat dari
siksa neraka selain orang – orang yang mendapat hidayah, taufik, dan rahmat
Allah, sedangkan memperoleh ketiga hal tersebut bukanlah hal yang mudah.
Tidak setiap orang akan diperkenankan permohonannya oleh Allah untuk bisa
menjadi hamba-Nya yang bahagia di dunia, di akhirat, dan selamat dari siksa
neraka. Oleh karena itu, kita selalu memohon kepada Allah agar permintaan
tersebut dikabulkan.

Berkenaan dengan ayat ini Rasulullah saw pernah memanggil sahabat Anas bin
Malik, kemudian bertanya yang artinya:

“Apakah kamu memohon sesuatu kepada Allah?” Ujaranya: “Ya, aku biasa
mengucapkan:’Wahai Tuhan, aku tidak pernah mengharapkan siksa di akhirat.
Oleh karena itu, jika memang ada, maka percepatlah dia untukku di dunia
ini.” Lalu Rasulullah saw bersabda: “Mahasuci Allah, karena pasti kamu tidak
akan sanggup memikulnya. Oleh karena itu, alangkah baiknya engkau ucapkan:
“Wahai Tuhan kami berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di
akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa neraka.” Lalu beliau mendo’akan
kebaikan untuk dirinya, lalu Allah menyembuhkannya. (HR.Bukhari)

Hadits tersebut di atas terjadi ketika Rasulullah melihat seorang sahabat
yang menderita sakit sehingga keadaan badannya laksana seekor ayam yang
dicabuti bulunya. Sahabat itu kemudian berdo’a seperti riwayat di atas. Lalu
ia ditegur oleh Rasulullah agar tidak mengucapkan do’a semacam itu, tetapi
mengucapkan do’a seperti termaktub pada ayat 201 di atas.

Kebaikan dan kebahagiaan di dunia hanyalah dapat kita peroleh dengan rahmat
Allah. Begitu juga kebahagiaan dan keselamatan hidup di akhirat hanya bisa
kita peroleh dengan rahmat Allah. Oleh karena itu, kita harus selalu memohon
kepada Allah agar kita mendapatkan kebahagiaan di kedua tempat tersebut.
Bagi seorang mukmin kehidupan di akhirat jauh lebih berarti daripada
kehidupan di dunia karena alam akhirat kekal dan abadi, sedang alam dunia
pasti berakhir.

Setiap mukmin tidak boleh melupakan akhiratnya karena ingin mengejar
kesenangan sementara di dunia ini. Ia juga tidak boleh beranggapan bahwa
kesenangan dunia adalah bukti dirinya telah memperoleh keridhaan Allah dalam
hidupnya, sebab orang yang diberi kesenangan belum tentu menjadi orang yang
dicintai dan diridhai oleh Allah. Sebagai bukti, orang – orang musyrik dan
kafir juga diberi kesenangan oleh Allah di dunia ini, tetapi mereka diancam
mendapatkan siksa yang berat di akhirat kelak.

Do’a ini boleh kita baca kapan dan di mana saja, tidak perlu waktu khusus
atau tempat tertentu.

(100 Do’a dalam Al-Qur’an dan Penjelasannya, Ust. Drs. Muhammad Thalib,
Kaffah Media, Maret 2007, Sukoharjo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: