SEPUTAR HARAMNYA REBONDING

Published 24 Januari 2010 by NAILUL MUNA ZAHRA

Rebonding dan Privatisasi

http://www.nuansaislam. com

Rebonding mungkin awalnya hanyalah sebuah istilah di antara sekian banyak istilah
yang berkaitan dengan perempuan, salon, kecantikan, trend, dan gaya
hidup. Tidak lebih. Namun rebonding yang belakangan ini menjadi salah
satu tema perbincangan hangat, telah meloncat jauh dari habitatnya. Ia
bukan hanya sebuah istilah persalonan dan trend. “Ini persoalan agama
dan kehormatan!” kata seseorang dengan bersemangat.
Di kala seperti itu, bahkan seorang hair stylist ternama tidak lagi mampu
menjelaskan apa itu sebenarnya rebonding.

Mengapa dia menjadi sedemikian rumit, lebih kalut dari sekadar
meluruskan rambut. Kaum penata rambut pasti hanya akan menjawab ketika
ditanya: “Rebonding haram ya? Kalo aku sih, ada yang minta ya saya
layani.”

Jika rebonding kita masukkan dalam salah satu dari aktivitas kosmetika, maka
sejarahnya bisa kita telusuri amat jauh hingga 10.ooo tahun Sebelum Masehi di Mesir Kuno. Masyarakat Mesir Kuno adalah masyarakat religius
dan kosmetika serta kecantikan adalah bagian dari kehidupan mereka yang
religius itu. Mereka meyakini bahwa tampak cantik dan berbau wangi
serta bersih adalah ekspresi kebertuhanan yang sangat penting. Karena
itu, alat-alat kosmetika adalah sesuatu yang amat penting pula dan
mengalami kecanggihan yang mungkin tak terkira kini. Bayangkan, waktu
itu, masyarakat Mesir Kuno telah mengenal cara menghilangkan bekas
luka, menyamarkan keriput, mengusir selulit, dan menyuburkan rambut.
Karena itu pula, ketika itu mereka telah mengenal makeup mata, kirim
wajah, minyak untuk badan, dan segala macam parfum. Alangkah majunya.

Dari Mesir Kuno kemudian kosmetika masyhur di Yunani sekitar 7 abad sebelum
Masehi di mana telah dikenal parfum, minyak kecantikan, bedak, eye shadow,
penghalus kulit, cat, salep kecantikan, dan pengering rambut. Dari Yunani lalu kosmetika berkembang hingga Roma sekitar 3 abad sebelum Masehi..

Oke, ternyata merias diri adalah salah satu tanda kemajuan peradaban,
terbukti kota-kota yang menjadi pusat peradaban di masanya juga adalah
pusat perkembangan kosmetika; dan salah satu yang menarik tadi adalah
adanya aktivitas merias diri adalah bagian dari aktivitas religius yang
bernilai spiritual hingga biasanya yang kita temukan dari gambar-gambar
perempuan yang ditemukan di piramida-piramida Mesir adalah gambar
orang-orang yang berdandan menor dengan bibir merah merekah. Di sana
tampak bahwa hasil merias diri bisa diakses oleh publik.

Namun ada juga tradisi agama yang cenderung memandang bahwa hasil merias
diri, terutama bagi perempuan, adalah persoalan privat, bukan persoalan
publik sehingga merias diri adalah untuk suami, bukan untuk umum.
Itulah mungkin yang menjadi asumsi dasar mengapa rebonding menjadi tidak
dibolehkan oleh sebagian cendekiawan Muslim. Bagi mereka, itu sama saja
dengan publikasi hal-hal yang seharusnya diprivatisasi. Bagi yang
setuju dengan rebonding mungkin akan berkata: Oke, memang ada hal-hal
yang tidak boleh dipublikasi, namun rambut—yang direbonding atau
tidak—tidak termasuk di antaranya. Lalu bagaimana jika haramnya
rebonding itu karena alasan kreasi manusia yang terberlebihan atas
ciptaan yang telah ditakdirkan Tuhan? Persoalannya berarti; sampai di
mana batas kreasi itu menjadi terlarang? Batasnya tampak abu-abu.

Memang tidak selalu agama barada satu jalur dengan perkembangan peradaban,
bahkan di banyak segi keduanya bentrok. Dalam kasus rebonding,
persoalannya adalah garis silang antara ruang-ruang privat dan
ruang-ruang publik. Dan banyak kasus dengan landasan seperti ini
menyeruak di banyak tempat. Di masa ketika ruang privat dan ruang
publik memiliki perbatasan yang temaram seperti sekarang ini—karena
dampak teknologi informasi—, persoalannya menjadi semakin rumit.

Seorang artis “panas” dalam sebuah wawancara tidak tampak sedih ketika
foto-foto berbusana hyper minimnya bersama seorang laki-laki yang bukan
muhrimnya beredar luas—di ruang publik. Dia berkata: “Itu bukan salah
saya. Itu adalah koleksi pribadi (baca: privat) yang oleh pihak—yang
“tidak bertanggung jawab—telah disebarluaskan (baca: dipublikkan) tanpa
izin tertulis dari saya.”
Ya, memang si pengedar mungkin hanya memegang “izin tak tertulis”. Mungkin
dalam hati dan nafsu terdalam si artis “panas” malah berterima kasih
sangat kepada si pengedar foto.
“Aku mendapatkan iklan gratis atas barang privatku di ruang publik,”
bisiknya girang dalam hati. “Sering-sering aja,” lanjutnya (dalam hati juga).
Satu hal yang pasti, adalah sesuatu yang selalu menarik bagi manusia jika
sekali-sekali waktu ruang privat menyibakkan sesenti dua cadarnya ke
ruang publik sambil mengerling. Dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui
segala sesuatu.[]
Daftar Bacaan:
http://www.cyonic- nemeton.. com/Cosmetics. htmlhttp: //www.thehistory of.net/the- history-of- cosmetics. html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: